Sabtu, 29 Januari 2011

MINAT BACA MAHASISWA STAIN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Minat baca merupakan salah satu kunci sukses seseorang dalam mengetahui dan menambah wawasan pengetahuannya. Banyak pemerintah negara-negara yang mengupayakan agar masyarakatnya meningkatkan minat membaca terhadap buku-buku agar memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) dinegara mereka. Di Indonesia, masalah minat baca di kalangan anak-anak maupun orang dewasa sudah banyak ditulis di koran, majalah, sebagai topik penelitian atau makalah untuk diseminarkan. Namun, topik ini tetap menarik dan aktual. Karena setelah begitu banyak ditulis dan dibicarakan masih saja belum tampak peningkatan minat baca yang signifikan. Indikator rendahnya minat baca adalah dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan yang memang masih jauh di bawah penerbitan buku di Malaysia, Singapura, atau negara-negara maju lainnya. Negara disebut maju karena rakyatnya suka membaca yang memuat tentang pengetahuan yang menyebabkan masyarakat suatu negeri tersebut memiliki penduduk yang cerdas mampu bersaing setaraf dengan masyarakat negeri lain di bidang apa saja di dunia internasional. Ini dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negara itu.
Dalam kaitan ini Perpustakaan merupakan salah satu unsur penunjang bagi mahasiswa dalam kegiatan di Perguruan Tinggi, sehingga perpustakaan dalam sistem pendidikan mempunyai peranan yang strategis, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sebuah sarana penunjang perpustakaan yang memadai. Perpustakaan yang merupakan pusat informasi, tempat bahan pustaka dikumpulkan, diolah dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat penggunanya. Dalam hal ini perpustakaan bertugas sebagai lembaga pelayanan kepada semua sivitas akademika di perguruan tinggi tersebut. Sebagai lembaga yang bertugas melayani publik, perpustakaan hendaknya dikelola semaksimal mungkin agar semua pemakai merasa terpenuhi kebutuhannya, sehingga meningkatkan dan menambah minat baca khususnya kepada para mahasiswa.
Untuk itu, dalam karya ilmiah ini akan menjelaskan bagaimana faktor pengaruh perpustakaan terhadap minat membaca para mahasiswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara menumbuhkan minat baca mahasiswa?
2. Apa yang menjadi fungsi perpustakaan bagi mahasiswa?
3. Upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca mahasiswa melalui perpustakaan?
4. Apa yang menjadi faktor alasan membaca bagi mahasiswa?
C. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahan dalam memaknai judul diatas, maka penulis akan menjelaskan judul tersebut secara opersional.
Minat Baca :kegiatan membaca yang dilakukan mahasiswa dengan penuh perhatian sebagai penunjang untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap bidang pengetahuan yang dituntutnya diperguruan tinggi.
Perpustakaan :Suatu sarana tempat yang mempunyai kumpulan dokumen (dalam arti luas), yang bertujuan sebagai rujukan dan bahan ajar, serta penunjang dalam kegiatan civitas akademika perguruan tinggi.

D. Alasan Memilih Judul
Faktor yang mendorong penyusun untuk memilih judul tersebut diatas adalah sebagai berikut :
1. Perpustakaan adalah merupakan faktor penting yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar mahasiswa.
2. Layanan sebagai wujud dari tugas para pustakawan menentukan citra perpustakaan tersebut.
3. Ketertarikan penyusun terhadap perpustakaan yang berorientasi pada minat baca mahasiswa.
4. Judul karya ilmiah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas kegiatan Perguruan Tinggi yang dapat tercapai melalui penggunaan fasilitas buku-buku perpustakaan.
2. Untuk mengetahui peran pustakawan dalam membantu untuk menemukan informasi yang mereka cari melalui buku-buku perpustakaan.
3. Untuk mencari upaya yang ditempuh dalam meningkatkan minat baca mahasiswa diperpustakaan.
4. Sebagai bentuk partisipasi penyusun dalam pemikiran terhadap perpustakaan di Indonesia.
F. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan yang didalamnya memuat uraian Latar Belakang, Rumusan Masalah, Definisi Operasional, Alasan Memilih Judul, Tujuan Penelitian, dan Sietematika Penulisan.
BAB II Landasan Teori yang didalamnya memuat Pengertian Minat Baca, Pengertian Perpustakaan, Fungsi Perpustakaan Bagi Mahasiswa, Upaya Meningkatkan Minat Baca Mahasiswa di Perpustakaan, dan Faktor Alasan Mahasiswa Membaca.
BAB III Metode Penelitian yang didalamnya memuat Populasi dan Sampel, dan Teknik Pengumpulan data.
BAB IV Analisa Data yang didalamnya memuat Minat Baca Mahasiswa Di Perpustakaan.
BAB V Penutup yang didalamnya memuat Kesimpulan, Saran, dan Daftar Pustaka.










BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Minat Baca
Minat merupakan faktor paling penting jika ingin mengingat hal-hal tertentu.
Secara garis besar “minat” berarti sibuk, tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Sedangkan “baca” atau yang dikenal dengan membaca ialah serangkaian kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memahami sesuatu keterangan yang disajikan kepada indra penglihatan dalam bentuk lambang huruf dan tanda lainnya.
Jadi, minat baca ialah keterlibatan sepenuhnya seseorang dengan segenap kegiatan membaca secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan yang dituntutnya. Apabila minat baca di khususkan kepada mahasiswa, berarti kegiatannya tersebut untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap bidang pengetahuan ilmiah yang dituntutnya di perguruan tinggi.
Dalam hubungannya dengan pemusatan perhatian membaca, minat mempunyai peranan sebagai berikut:
1. Melahirkan Perhatian yang serta merta
2. Memudahkan terciptanya pemusatan perhatian
3. Mencegah gangguan perhatian dari luar.
Perhatian serta merta dilahirkan oleh minat seseorang, ketika seorang mahasiswa mempunyai minat baca, pada saat itulah perhatian terhadap kegiatan membaca tidak lagi dipaksakan dan beralih menjadi perhatian yang serta merta. Kegiatan membaca secara tekun menjadi prasyarat untuk menguasai pelejaran dan memperdalam pengetahuan. Oleh karena minat merupakan suatu sikap batin dalam diri setiap mahasiswa, maka tumbuhnya minat baca bermuara pada sesuatu atau berbagai dorongan batin. Dorongan batin itu harus digerakkan untuk melahirkan minat baca, walaupun membaca merupakan suatu kegiatan mahasiswa yang paling banyak memerlukan waktu dan memerlukan pemikiran yang sepenuhnya, namun jika sudah diikuti dengan minat, maka hal tersebut menjadi kenikmatan. Seperti membaca karya fiksi yang kita minati, kita mendapatkan pengalaman-pengalaman yang nikmat (bahkan ketika persoalan yang diceritakan sesungguhnya tidaklah menyenangkan), sehingga imajinasi kita merasakan, melihat, dan mendengar hal tersebut. Seakan-akan seorang pembaca yang menjadi tokoh pemeran dalam buku yang dibaca. Jadi, ketika seseorang mahasiswa membaca buku-buku teks akademika, maka usahakan agar memotivasi dirinya umembaca untuk mencari kenikmatan, seakan-akan dia langsung berdialog dengan pengarangnya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap minat baca.


B. Pengertian Perpustakaan
Menurut Attherton maupun Weismen mendefinisikan perpustakaan ialah sebagai salah satu jenis sistem informasi yang spesifik, merupakan suatu kumpulan dokumen (dalam arti luas), yang terorganisasi, serta terpelihara untuk kepentingan rujukan dan bahan ajar.
Secara luas, pengertian perpustakaan selain melakukan fungsi-fungsi pengumpulan bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka (katalogasi), serta melakukan layanan sirkulasi bahan pustaka, juga melakukan penciptaan, publikasi, serta diseminasi informasi. Bahkan perpustakaan juga melakukan pengumpulan rekaman hasil-hasil penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak perencanaan, sedang berjalan, dan sudah selesai. Dengan definisi demikian, maka ruang lingkup kegiatan perpustakaan dapat menjadi lebih luas, misalnya:
1. Kegiatan-kegiatan yang berbasis pengelolaan pustaka dan/atau informasi.
2. Kegiatan-kegiatan yang berbasis publikasi.
3. Kegiatan-kegiatan yang mengarah kepengembangan sistem.
4. Kegiatan-kegiatan preverservasi informasi.
5. Kegiatan-kegiatan yang berbasis layanan informasi.
6. Kegiatan-kegiatan analisis data dan hubungan dengan pemakai, dan
7. Kegiatan-kegiatan yang bersifat peningkatan mutu SDM.
Apabila melihat sejarah kembali, bahwa perpustakaan telah ada pada zaman kejayaan khalifah Abbasiyah, sebelum perusakan yang dilakukan oleh pasukan Mongol pada abad ke-13. pada mulanya perpustakaan cenderung didirikan dirumah orang-orang kaya, kalangan bangsawan dan di istana-istana para penguasa. Karena ajaran-ajaran Al Qur’an mengharuskan individu-individu untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan menyediakan kekayaan yang dimilikinya bagi orang-orang lain yang kurang beruntung, Maka para hartawan membiayai pembangunan perpustakaan dan seringkali membukanya untuk para ilmuan dan kadang-kadang untuk umum.
Disamping koleksi-koleksi pribadi yang disimpan dirumah-rumah hartawan dan penguasa, dalam sejarah islam terdapat juga perpustakaan-perpustakaan yang menawarkan kemungkinan penggunaan buku-buku dalam cakupan yang lebih luas. Perpustakaan-perpustakaaan umum, yang membuka pintu dan menawarkan hak pinjam bagi penduduk umum yang berdiri dimesjid, mesjid akademi, dan madrasah-madrasah. Khalifah, wazir, dan penguasa-penguasa lokal seringkali membangun perpustakaan umum untuk mempromosikan kegiatan baca-tulis dan memajukan tingkat pendidikan dalam wilayah kekuasaan mereka. Lembaga-lembaga seperti itu berkembang tidak hanya di Baghdad (yang memiliki 36 perpustakaan), tetapi juga ibu-ibu kota propinsi (termasuk di Bukhara, Marw, Samarkand, dan Nishapur) dan sepanjang wilayah Afrika Utara, khususnya dipusat-pusat utama kebudayaan islam di Andalusia. Hal inilah yang memotivasi kita untuk berusaha memajukan perpustakaan lagi sebagai bahan bacaan dan berguna bagi seluruh masyarakat dengan sarana yang memadai.
Membaca sejumlah jenis buku sangat bagus dilakukan diperpustakaan, termasuk jenis penyaringan cepat yang mungkin bisa dilakukan untuk membuat keputusan yang masuk akal, apakah sebuah buku atau artikel berharga untuk dibaca sampai mendetail atau tidak perlu. Dengan menggunakan satu cara membaca akademika yang hanya dapat dilakukan di perpustakaa yang dikenal dengan “merumput”. Cara ini mencakup penentuan tumpukan perpustakaan yang akan digunakan untuk menemukan buku-buku yang berkaitan dengan topik yang diminati. Dengan menggunakan katalog perpustakaan untuk mencari yang diperlukan, memutuskan buku-buku yang dan jurnal-jurnal yang perlu dibaca secara mendetail, sehingga mendapatkan bahan-bahan tentang gagasan yang menarik.
C. Fungsi Perpustakaan Bagi Mahasiswa
Tidak ada kegiatan belajar di perguruan tinggi yang dapat dilaksanakan tanpa membaca dan gudang bacaan adalah perpustakaan. Bahkan menurut penulis dan sejarahwan Thomas Carlyle (1795-1881), Universitas sejati dewasa ini adalah sebuah kumpulan buku (The true university of these days is a collection of books).



Ada beberapa fungsi perpustakaan bagi mahasiswa di perguruan tinggi, yaitu:
1. Sebagai pusat sistem belajar-mengajar bagi sivitas akademika perguruan tinggi yang bersangkutan, sehingga menghasilkan lulusan yang bermutu tinggi.
2. Sebagai tempat terselenggaranya penelitian bagi sivitas akademika perguruan tunggi sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang dengan baik.
3. Sebagai sarana untuk kerjasama dengan pihak-pihak luar perguruan tinggi dalam pengumpulan, pengolahan, serta penyebarluasan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Sebagai sarana untuk mengakses informasi baik didalam kampus maupun luar kampus, bahkan luar negeri.
5. Sebagai sarana untuk pemanfaatan koleksi secara bersama dengan perpustakaan lain sehingga memperlancar pencarian maupun penyebaran informasi.
Akan tetapi, fungsi perpustakaan belum maksimal apabila mahasiswa sendiri tidak mengetahui tata cara dan tata tertib dalam perpustakaan tersebut, sehingga perpustakaan Perguruan Tinggi hanya sebagai simbol atau tempat penumpukan buku-buku tanpa dipergunakan oleh mahasiswa. Untuk menjadi seorang pengguna perpustakaan yang cerdas, ada sekurang-kurangnya 4 langkah yang perlu ditempuh, yaitu:
1. Mengetahui waktu kerja perpustakaan perguruan tinggi.
2. Mempelajari semua peraturan tata tertib penggunaan perpustakaan.
3. Memahami tertib penggolongan buku pada perpustakaan.
4. Menguasai rakitan buku ilmiah dan cara-cara memanfaatkannya.
D. Upaya Meningkatkan Minat baca Mahasiswa Di Perpustakaan
Ada beberapa usaha untuk meningkatkan minat baca mahasiswa di perpustakaan, diantara lain adalah:
1. Adanya perpustakaan yang memadai.
Menurut keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 0686/U/1991 tentang pedoman pendirian perguruan tinggi, salah satu syarat untuk mendirikan perguruan tinggi adalah adanya sarana prasarana perpustakaan. Hal ini dapat menarik minat baca mahasiswa masuk keperpustakaan dengan fasilitas yang memadai, sehingga pengunjung menjadi betah diperpustakaan.
2. Adanya koleksi yang juga memadai.
Koleksi merupakan komponen yang paling penting bagi perpustakaan. Koleksi yang harus dimiliki oleh perpustakaan adalah sekurang-kurangnya buku wajib bagi setiap mata ajaran dengan jumlah memadai. Untuk meningkatkan koleksi memang cukup mahal, namun bila pustakawan mempunyai kreativitas tinggi, maka dia dapat memanfaatkan tawaran-tawaran donatur beberapa instansi baik nasional maupun internasional.

3. Penciptaan lingkungan kondusif.
Lingkungan akademik yang baik akan mendorong mahasiswa untuk menggunakan perpustakaan. Dosen yang rajin membaca akan selalu memberikan tugas membaca bagi mahasiswanya. Kemudian perpustakaan memberikan layanan yang baik dan menyediakan kebutuhan literatur yang dibutuhkan oleh pengguna, maka mahasiswa akan banyak mendatangi perpustakaan. Lingkungan akademik ini memang tidak bisa lahir sendiri tanpa adanya kerjasama dosen dan pimpinan universitas.
4. Promosi minat baca.
Ketidakdatangan mahasiswa dan dosen keperpustakaan sering disebabkan karena ketidaktahuan terhadap keeradaan koleksi serta layanan perpustakaan. Karena itu promosi tentang perpustakaan harus dilakukan, baik melalui website, mailing list, surat elektronik kepada dosen perorangan, dan bahkan memanfaatkan pertemuan atau rapat difakultas maupun jurusan.
5. Melakukan lomba menulis
Adanya kerjasama perpustakaan dengan pihak luar baik penerbit buku, maupun produk-produk yang lain mengadakan lomba menulis. Seperti menulis abstrak atau ringkasan artikel, ringkasan buku dan lain-lain dengan hadiah yang menarik biasanya dapat menimbulkan minat mahasiswa untuk ikut lomba tersebut.
6. Peranan staf pengajar
Di Perguruan Tinggi staf pengajar atau dosen mempunyai kedudukan istimewa. Karena mempunyai andil besar dalam memajukan mutu perguruan tinggi. Oleh sebab itu staf pengajar mempunyai peranan dalam meningkatkan baca-tulis di perguruan ringgi.
7. Pelaksanaan prorgam bimbingan perpustakaan (awal kuliah).
Pada awal kuliah biasanya dosen selain memperkenalkan diri, memberikan gambaran awal tentang mata kuliahnya, juga memberikan informasi bahan bacaan atau bahan ajar yang menjadi pegangan wajib bagi mahasiswa yang mengikuti kuliahnya. Pada saat inilah dosen juga mengingatkan bahwa bacaan tersebut diperpustakaan. Tentunya dosen sebelumnya sudah mengecek keperpustakaan apakah buku pegangannya sudah dimiliki perpustakaan atau belum. Bila belum, maka perpustakaan harus berusaha untuk mendapatkannya baik melalui fotokopi (yang tidak melanggar hak cipta), maupun membeli aslinya.
8. Keterlibatan dosen dalam pengelolaan perpustakaan.
Dosen yang terlibat dalam pengelolaan perpustakaan atau staf perpustakaan mempunyai keuntungan daripada dosen yang tidak terlibat. Biasanya akan lebih tahu bahan bacaan apa saja yang ada diperpustakaan. Dengan demikian dosen tersebut bisa membaca lebih dahulu dan kemudian menginformasikan kepada mahasiswa atau memberi tugas kepadsa mahasiswanya untuk membaca bacaan tersebut. Di beberapa perpustakaan seringkali dibentuk komisi perpustakaan yang beranggotakan dosen-dosen yang mempunyai kepedulian terhadap pengembangan perpustakaan.
E. Faktor Alasan Mahasiswa Membaca
Ungkapan “Membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku”. Sepintas ungkapan ini sederhana, namun didalamnya terkandung makna penting bahwa dalam hal menuntut ilmu tidak terlepas dari membaca buku-buku. Akan tetapi dalam hal alasan membaca, para mahasiswa mempunyai beberapa alasan mereka membaca, seperti:
1. Untuk mendapatkan gagasan yang menyangkut esai dan tugas.
2. Untuk meluaskan pengetahuan tentang suatu bidang.
3. Untuk memahami hal-hal yang telah ditulis oleh orang lain mengenai topik yang diminati.
4. Untuk memahami gagasan-gagasan dari kuliah atau seminar, atau dari sumber-sumber tertulis lainnya.
5. Untuk meningkatkan gaya tulisan.
6. Untuk menghadapi ujian.
7. Untuk dapat “menyebutkan beberapa nama” ketika menuliskan tugas.
8. Untuk “mendapatkan acungan jempol” kaeran menampilkan rujukan yang mengesankan dan kutipan hebat.
Dari beberapa alasan tersebut mempunyai dampak positif dan negatif. Alasan positif membaca adalah bahwa membaca dapat merangsang pikiran, meningkatkan gaya tulisan agar terhindar dari kesalahan-kesalahan, serta mengontekstualkan argumen dan sudut pandang yang disajikan dalam esainya, dengan mengaitkannya pada hal-hal yang dituliskan orang lain. Sedangkan alasan negatif membaca adalah hanya untuk menghadapi ujian, untuk “mendapatkan acungan jempol” dari orang lain, serta hanyalah untuk memberikan kesan cendekia, bukannya benar-benar menjadi cendekia.
Adanya Alasan negatif mahasiswa membaca ini menggambarkan tidak adanya minat membaca yang tulus dari mahasiswa atas dorongan diri sendiri. Walaupun menumbuhkan minat baca bukanlah hal yang mudah, mungkin dengan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca mahasiswa dapat merubah alasan mereka untuk lebih baik lagi dalam membangun kepribadian dan kemampuan intelektual mereka.














BAB III
METODE PENELITIAN

Penelitian atau research adalah sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan usaha yang dilakukan melalui metode ilmiah. Agar penelitian dapat berjalan sesuai dengan kerangka berfikir ilmiah, di perlukan suatu metode yang akan digunakan ketika melakukan penelitian. Berikut beberapa metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini.
A. Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah perpustakaan Perguruan Tinggi di Samarinda. Sedangkan sampelnya adalah perpustakaan STAIN Samarinda yang terletak di Jl. KH. Abul Hasan No.03 Samarinda.
B. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara yang berisi beberapa pertanyaan tentang minat baca mahasiswa di perpustakaan. Wawancara dilakukan dengan:
1. Pengurus perpustakaan STAIN Samarinda.
2. Mahasiswa-mahasiswi Tarbiyah (PAI) semester III lokal A Samarinda.



Menurut penelitian hasil dari wawancara dengan petugas perpustakaan dan mahasiswa tarbiyah (PAI), maka dapat diketahui bahwa:
1. Jumlah pengunjung perpustakaan setiap harinya adalah sekitar rata-rata 17-25 mahasiswa.
2. Minat mahasiswa berkunjung ke perpustakaan dalam seminggu antara lain, 1-2 kali 50%, 3-4 kali 40%, 5-6 kali(setiap hari) 10%.
3. Menurut wawancara dari 14 mahasiswa, alasan mereka berkunjung 1-2 kali dalam seminggu adalah: 7 mahasiswa berpendapat bahwa karena mereka sedang menghadapi ujian kuis. 5 mahasiswa berpendapat bahwa hanya karena mendapat tugas dari dosen, 2 mahasiswa berpendapat bahwa karena hanya melihat-lihat saja.
4. Menurut wawancara dari 11 mahasiswa, alasan mereka berkunjung 3-4 kali dalam seminggu adalah: 6 mahasiswa berpendapat bahwa untuk mencari beberapa referensi untuk tugas dan buku yang di minatinya. 5 mahasiswa berpendapat bahwa karena menindaklanjuti ketertarikan pada suatu topik bersangkutan dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang topik tersebut.
5. Menurut wawancara dari 3 mahasiswa, alasan mereka berkunjung 5-6 kali (setiap hari) dalam seminggu adalah: 2 mahasiswa berpendapat bahwa untuk selalu memperbaiki gaya tulisannya dan memperluas pengetahuan tentang berbagai bidang. 1 mahasiswa berpendapat untuk selalu merangsang berfikir kritis dan untuk selalu mengetahui buku-buku terbaru di perpustakaan.

BAB IV
ANALISA DATA

Dalam analisis data ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif. Pengertian deskriptif adalah suatu jenis penelitian yang ditujukan untuk menyajikan gambaran tentang sebuah fenomena secara valid dan objektif, sesuai dengan prinsif-prinsif penelitain yang telah dilakukan.
Minat Baca Mahasiswa di Perpustakaan
Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, maka dapat di analisis bahwa kondisi minat baca mahasiswa di perpustakaan masih relatif rendah. Ini dapat dilihat dari data pengunjung ke perpustakaan oleh mahasiswa yang memperlihatkan betapa masih sedikitnya mahasiswa yang memanfaatkan perpustakaan. Paling banyak mahasiswa yang berkunjung ke perpustakaan tidak lebih dari 10% dari total populasi. Kemudian adanya masih keterpaksaan untuk mengunjungi perpustakaan tersebut, seperti hanya datang ke perpustakaan ketika mendapat tugas atau sedang menghadapi ujian tanpa ada kesadaraan minat dan pentingnya perpustakaan bagi dirinya sendiri. Padahal minat baca mahasiswa merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan informasi tentang dunia, sebagai penyokong banyak tugas akademika sebagai mahasiswa. Jika ilmu di umpamakan sebagai darah dalam tubuh kita, dan tubuh kita merupakan Perguruan Tinggi, maka perpustakaan adalah jantung sebagai perantara yang mengalirkan ilmu kepada mahasiswa melalui dosen sebagai pembuluh darahnya. Selain itu, jangan dilupakan pula bahwa ruang baca yang kurang nyaman seperti kurangnya ruangan dan fasilitas, tidak bersih, serta gaduh, dapat menjadi faktor kurangnya mahasiswa serta dosen untuk mengunjungi perpustakaan. Sehingga selain memberikan layanan jasa informasi, perpustakaan juga wajib mengevaluasi dirinya yaitu dengan menerima saran dan kritik dari pengunjung dan pemakainya.
Oleh karena itu, dengan adanya upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca mahasiswa di perpustakaan dapat melahirkan dan meningkatkan minat baca sendiri bagi mereka, tanpa adanya lagi alasan negatif mahasiswa membaca yang hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Sehingga membangun kepribadian mereka dan kemampuan intelektual sebagai seorang cendekia. Kemudian tidak terlepas dari adanya kerjasama para pengurus perpustakaan, dosen, dan pimpinan universitas dalam berupaya meningkatkan minat baca mahasiswa. Karena mereka mempunyai peran yang sangat penting dalam kinerja perpustakaan Perguruan Tinggi sehingga dapat berjalan fungsinya dengan baik dan bermutu.







BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh penulis, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kondisi minat baca mahasiswa di perpustakaan masih relatif rendah. Ini dapat dilihat dari sedikitnya mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan dan tidak adanya dorongan dari diri sendiri dan serta minat baca untuk selalu berada di perpustakaan. Kebanyakan mahasiswa masih bergantung dengan tugas yang diberikan kepadanya. Padahal perpustakaan akademik mempunyai kedudukan dan peran yang sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu suatu Perguruan Tinggi dan sebagai pusat bagi kegiatan mahasiswa dan dosen dalam proses belajar-mengajar. Oleh karena itu perpustakaan sering disebut jantung dari suatu Perguruan Tinggi.
Selain itu, diperlukan pula adanya kerjasama para pengurus perpustakaan, dosen, dan pimpinan universitas untuk berupaya meningkatkan minat baca mahasiswa. Karena mereka mempunyai peran yang sangat penting dalam kinerja perpustakaan Perguruan Tinggi sehingga dapat berjalan fungsinya dengan baik.
B. Saran
1. Seharusnya semua mahasiswa mempunyai dorongan pada dirinya untuk melahirkan dan meningkatkan minat bacanya.
2. Sebaiknya perpustakaan dikelola sesuai dengan tujuan dan fungsinya.

DAFTAR PUSTAKA

Mahesh Kapadia, Daya Ingat, Pustaka Populer Obor, Jakarta: 2003.

The Liang Gie, CARA BELAJAR YANG BENAR BAGI MAHASISWA Edisi kedua, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta: 2004.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Perguruan Tinggi, Depdikbud, Jakarta: 1994.

Charles Michael Stanton, PENDIDIKAN TINGGI DALAM ISLAM Sejarah dan Peranannya dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, PT. Logos Publishing House, Jakarta: 1994.

Gavin J. Fairbairn-Susan A. Fairbairn, BUDAYA BACA DI UNIVERSITAS, PT. Indeks, Jakarta: 2005.

1 komentar:

  1. pengertian minat bacanya dikutip dari buku siapa ya?
    saya juga butuh saran buku lain, masalahnya susah sekali mencari bukunya.
    thanx before.

    BalasHapus