Sabtu, 29 Januari 2011

makala masa remaja

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja, menurut Stanley Hall, seorang bapak pelopor psikologi perkembangan remaja (dalam Santrock,1999), dianggap sebagai masa topan badai dan stress (strom and stress), karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk nasib diri sendiri.
Anak-anak yang berusia 12 atau 13 tahun sampai dengan 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan di kalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang Barat sebagai perode strum und drong. Sebabnya karena mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat.
Ada pula ahli psikologi yang menganggap masa remaja sebagai peralihan dari masa anak ke masa dewasa, yaitu saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihata dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa. Saat anak mengalami masa remajanya tidak sama waktunya di tiap-tiap negara. Waktunya berbeda-beda menurut norma kedewasaan yang berlaku setempat.
Kemudian dengan adanya keadaan yang menimbulkan kesimpangsiuran terhadap nilai-nilai moral, etika, dan sosial yang tidak menentu membuat kaum remaja bertambah bimbang, ragu-ragu, dan bingung sehingga mereka bertanya-tanya dalam hatinya, mana yang sebenarnya harus dipilih dan dipedomaninya. Jadi, kalau terarah dengan baik, maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggung jawab, tetapi kalau tidak terbimbing, maka bisa menjadi seorang yang tak memilik masa depan dengan baik.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang masa remaja, maka penulis akan memaparkan dalam makalah ini yang membahas tentang perkembangan masa remaja dan permasalahan serta upaya pemecahannya.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalah, yaitu sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud masa remaja?
2. Bagaimana masa perkembangan remaja?
3. Apa faktor yang melatar belakangi kenakalan remaja ?
4. Apa akibat yang ditimbulkan dari kenakalan remaja tersebut ?
5. Bagaimana upaya pemecahannnya ?



















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Remaja
Istilah asing yang sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja, menurut Yulia S.D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa antara lain : a. puberteit, puberty dan b. adolescentia. Istilah puberity berasal dari istilah latin, pubertas yang berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda kelaki-lakian. Sedangkan Adolescentia juga berasal dari istilah latin, yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun. Sehingga disimpulkan bahwa proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22 tahun.
Jadi, remaja (adolescence) adalah masa transisi/peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikologi. Secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara 12/13 – 21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa, mengutip pendapat Erikson, maka remaja akan melalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri.
Penggolongan remaja menurut Thonburg, terbagi 3 tahap, yaitu :
1. Remaja awal/pueral/Pra Pubertas (usia 13 – 14 tahun)
2. Remaja tengah/Pubertas (usia 15 – 17 tahun )
3. Remaja Akhir/Adoleson (usia 18 – 21 tahun).
Masa remaja awal, umumnya individu telah memasuki pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan masa remaja tengah, individu sudah duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian mereka yang tergolong remaja akhir, umumnya sudah memasuki dunia Perguruan Tinggi atau lulus SMU dan mungkin sudah bekerja.



B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
Secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan individu (bersifat dichotomy), yakni endogen dan exogen.
1. Faktor endogen (nature), bahwa perubahan-perubahan fisik maupun psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang bersifat herediter yaitu yang diturunkan oleh orang tuanya, misalnya : postur tubuh (tinggi badan), bakat-minat, kecerdasan, kepribadian, dan sebagainya.
2. Faktor exogen (nurture), bahwa perubahan dan perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri, diantaranya berupa lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik berupa tersedianya fasilitasnya sarana dan fasilitas, letak geografis, cuaca, iklim, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial berupa lingkungan dimana seorang mengadakan relasi/interaksi dengan individu atau sekelompok individu lainnya, seperti : keluarga, tetangga, teman, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, dan sebagainya.

C. Ciri-Ciri Remaja
Ada beberapa ciri yang harus diketahui, diantaranya ialah :
1. Pertumbuhan fisik
Pertumbuhan fisik mengalami perubahan dengan cepat, lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa.
2. Perkembangan seksual
Seksual mengalami perkembangan yang kadang-kadang menimbulkan masalah dan menjadi penyebab timbulnya perkelahian, bunuh diri, dan sebagainya. Tanda-tanda perkembangan seksual pada anak laki-laki di antaranya : alat produksi spermanya mulai berprodiksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan sperma. Sedangkan pada anak perempuan bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi (datang bulan) yang pertama.

3. Cara berpikir kausatif
Yaitu menyangkut hubungan sebab dan akibat. Remaja telah berfikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil.
4. Emosi yang meluap-meluap
Keadaan emosi remaja masih labil karena erat hubungannya dengan keadaan hormone. Suatu saat ia bisa sedih sekali, di lain waktu ia bisa marah sekali, bahkan sedang senang-sengannya mereka mudah lupa diri. Sehingga emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistis.
5. Mulai tertarik kepada lawan jenis
Secara biologis manusia terbagi atas dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan social remaja, mereka mulai tertarik pada lawan jenisnya dan mulai berpacaran.
6. Menarik perhatian lingkungan
Pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dari lingkungannya, berusaha mendapatkan status dan peranan seperti kegiatan remaja di kampung-kampung yang diberi peranan. Misalnya mengumpulkan dana atau sumbangan kampong, pasti ia akan melaksanakannya dengan baik. Bila ia tidak diberi peranan, ia akan melakukan perbuatan yang menarik perhatian masyarakat, bila perlu melakukan perkelahian atau kenakalan lainnya.
7. Terikat dengan kelompok
Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik jepada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomorduakan sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Karena mereka merasa tidak dimengerti orang tuanya, dan lebih kepada sekelompok sebayanya yang lebih mengerti ia apalagi dalam pengalaman yang sama.




C. Masa Perkembangan Remaja
Pada masa remaja dibedakan dengan tiga fase, yaitu :
1. Masa Pueral/Pra Pubertas
Dalam psikologi, kata puer artinya anak besar. Masa pueral merupakan bagian akhir dari masa anak sekolah. Puer adalah anak yang tidak suka lagi diperlakukan sebagai anak, tetapi ia belum termasuk golongan orang dewasa.
Adapun cici-ciri masa pueral adalah sebagai berikut :
a. Perkembangan jasmani
Tidak banyak yang kita ketahui tentang perkembangan jasmani ini karena masa pueral dialami dalam tempo yang singkat saja. Anak laki-laki merasa badannya bertambah kuat dari keadaan masa-masa lalunya. Hal ini ditandai dengan berani, senang beramai-ramai, suka mengganggu orang lain, menimbulkan perselisihan dan perkelahian. Sedangkan pada perempuan tidak begitu jelas, hanya terlihat mereka suka tertawa dan gembira sekali.
b. Perkembangan psikis
Perkembangan ini antara lain :
1) Pueral ingin diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri.
2) Mereka menganggap kekuasaan orang tua sebagai suatu hal yang sudah semestinya, asalkan orang tua bertindak bijaksana.
3) Guru yang baik sikapnya sangat ditaati karena pueral sudah kritis, tidak begitu saja menerima segala sesuatu.
Sebenarnya prapubertas masih termasuk ke dalam masa peralihan. Masa ini dialami anak perempuan lebih singkat daripada lamanya dialami anak laki-laki. Kedua jenis berangsur-angsur melepaskan diri dari ikatan orang tuanya untuk memungkinkan mereka dapat bertindak dan berpikir lebih bebas. Andaikan mereka tidak dapat melepaskan dirinya dari keterikatan itu dan merasa kemerdekaannya terancam, ada kemungkinan mereka akan berontak atau sekurang-kurangnya tidak mau menuruti perintah, tidak tunduk kepada peraturan.
Adapun ciri-ciri masa pra pubertas antara lain :
a. Masa negatif
Tibanya masa negatif ditandai dengan timbulnya perasaan tertegun dan berkurangnya aktivitas. Masa ini akan berakhir dengan pulihnya kembali aktivitas. Diantara sifat-sifat yang nampak adalah :
1) Kemampuan bekerja menurun
2) Kewajiban dan hobinya sering diabaikan
3) Merasa gelisah dan kurang senang terhadap lingkungannya
4) Mereka sombong selain masih memperlihatkan sifat-sifat kelemahannya.
b. Masa merindu puja
Merindu puja itu tidak ditujukan kepada manusia saja, juga kepada hal-hal yang abstrak yang sangat dikaguminya seperti keindahan alam, kebaikan, dan kecantikan. Jika kita gambarkan dengan kata-kata, merindu puja mengalami proses sebagai berikut :
- Seseorang dipuja karena bentuk, sifat-sifat lahir yang dimiliknya, dan sifat-sifat batinnya.
- Pujaan itu berdasarkan nilai kultur yang didukung oleh individu itu sendiri, misalnya : seorang pemimpin, tokoh, actor, dan sebagainya.
2. Masa Pubertas
Masa pubertas disebut sebagai masa bangkitnya kepribadian ketika minatnya lebih ditujukan kepada perkembangan pribadi sendiri. Pribadi itulah yang menjadi pusat pikirannya. Ada beberapa sifat yang menonjol pada masa ini, yang tidak sama kuatnya pada semua remaja. Diantara sifat-sifat itu adalah:
a. Pendapat lama ditinggalkan, mereka ingin menyusun pendirian yang baru.
b. Keseimbangan jiwanya tergangu, mereka suka menentang tradisi, mengira mereka sanggup menentukan pendapatnya tentang segala masalah kehidupan.
c. Suka menyembunyikan hatinya, karean sukar diselami jiwanya baik perbuatan maupun tindakannya.
d. Masa bangunnya perasaan kemasyarakatan, karena dorongan bersatu dengan teman sebaya semakin bertambah kuat, tetapi sikapnya masih menentang kewibawaan orang dewasa.
e. Perbedaan sikap pemuda dengan sikap gadis, khususnya dalam perbedaan kelamin. Seorang pemuda mempunyai keinginan seksual yang timbul dengan sendirinya, dan dialaminya lebih kuat daripada yang dirasakan seorang gadis.
3. Masa Adolesen
Masa ini tidak begitu menarik perhatian para ahli karena perubahan-perubahan yang masih terjadi tidak begitu hebat jika dibandingkan dengan perubahan yang dialami pada masa pubertas. Perubahan yang terjadi sangat bervariasi, lebih menonjolkan perbedaan perseorangan sehingga sukar mencari sifat-sifat umum.
Masa adolesen berada diantara usia 17 dan 20 tahun. Atau mengambil batas-batas permulaannya pada saat-saat remaja mengalami perkembangan jasmani yang sangat menonjol, sedangkan batas-batas akhir pada saat berakhirnya perkembangan jasmani.
a. Sifat adolesen
Beberapa diantara sifat-sifat adolesen, ialah :
1). Mulai nampak garis-garis perkembangan yang diikutinya di kemudian hari
2). Mulai jelas sikapnya terhadap nilai-nilai hidup
3). Jika pada masa pubertas mengalami keguncangan, dalam masa ini jiwanya mulai tampak tenang
4). Sekarang ia mulai menyadari bahwa mengecam itu memang mudah, tetapi ternyata melaksanakannya itu sukar
5). Ia menunjukkan perhatiannya kepada masalah kehidupan yang sebenarnya
6). Pada masa pubertasnya erotik dan seksualitas itu lepas atau terpisah satu dengan yang lainnya, sekarang erottik dan seksualitas dilebur menjadi Satu
7). Jika pada masa pubertasnya ideal-ideal itu terdapat pada orang-orang yang bergaul dengannya, sekarang ia menghargai nilai-nilai (estetis, etis, ekonomi, sosial) lepas dari orang-orang yang memiliki nilai-nilai hidup itu
b. Ciri Adolesen
Adapun ciri-ciri masa adolesen adalah sebagai berikut :
1) Gejala-gejala jasmaniah di kalangan adolesen, perkembangan adolesen disertai dengan kematangan seksual dan pertumbuhan jasmaniah.
2) Perbedaan sikap terhadap nilai-nilai kehidupan
3) Perbedaan sikap pemuda yang belum bekerja dengan yang telah bekerja.
4) Perkembangan seks, pengalaman seksual mencakup pengalaman yang secara khayal ditujukan kepada hubungan jasmani dengan orang yang dicenderunginya. Sehubungan dengan perkembangan erotik yang berwujud cinta yang pada dasarnya estetis. Jiwa mempersatukan diri dengan jiwa yang lain karena mengagumi kecantikan atau kegagahan tubuh yng lainnya.
5) Perkembangan religius (Ketuhanan Yang Maha Esa), Pada masa adolesen kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dialami sendiri dengan sadar, misalnya waktu mengikuti upacara-upacara keagamaan yang membangkitkan suasana dan perasaan keagamaan itu.
6) Perkembangan etika, filsafat etika mengajarkan tentang apa yang baik dan buruk. Ukuran bagi sesuatu yang baik dan buruk adalahkata hati. Kata hati itu dipengaruhi faktor-faktor pembawaan, lingkungan, agama, dan usia.

c. Tugas Adolesen
Membicarakan perkembangan bayi tugas-tugas perkembangannya adalah mencapai keterampilan berjalan dan berbicara. Sedangkan masa kanak-kanak ialah bergaul dengan teman dari kedua jenis kelamin, misalnya pada kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa remaja akhir (adolesen) ini ada beberapa tugas-tugas perkembangannya, antara lain :
1) Bergaul dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin
2) Mencapai peranan sosial sebagai pria dan wanita
3) Menerima keadaan fisik sendiri
4) Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
5) Meamilih pasangan dan mempersiapkan diri untuk hidup bekeluarga.
Jadi, dari uraian diatas, para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa bahwa ada perbedaan karakteristik di antara tiga fase pra puberta/puera, pubertas (awal) dan adolesen atau pubertas akhir antara lain ialah sebagai berikut :
- Pada masa pra pubertas (masa negative, verneinung, trotzalter kedua), anak sering merasakan bingung, cemas, takut, gelisah, gelap hati, bimbang, ragu, risau, sedih hati, rasa-rasa minder, trasa-rasa tidak mampu melaksanakan tugas-tugas, dan lainnya. Anak tidak tahu sebab mushabab dari macam-mcam perasaan yang menimbulkan kerisauan hati.
- Pada masa pubertas, anak muda menginginkan/mendambakan sesuatu dan mencari-cari sesuatu. Namun apa sebenarnya “sesuatu” yang diharapkan dan dicari itu, dia sendiri tidak tahu. Anak muda merasa sunyi di hati, dan merasa tidak bisa mengerti dan tiadk mengerti.
- Pada masda adolesen, anak muda mulai merasa mantap dan stabil. Dia mulai mengenal aku-nya, dan ingin hidup dengan itikad keberanian. Dia mulai memahami arah hidangan itikad keberanian. Dia mulai memahami arah hidupnya, dan menyadari tujuan hidupnya. Ia mempunyai pendirian tertentu berdasarkan satu pola hidup yang jelas.

D. Permasalahan Remaja
Masa remaja ini merupakan suatu masa yang sangat menarik perhatian para ahli. Mereka menemukan dirinya sendiri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru untuk menjadi pribadi yang dewasa.
Perkembangan manusia mulai dari masa bayi sampai lanjut usia tidak terlepas dari permasalahan. Termasuk pada masa remaja, banyak permasalahan yang dihadapi ketika melewati masa-masa ini. Dari berbagai permasalahan banyak para ahli lebih membahas tentang kenakalan remaja, karena masa remaja berada di antara masa anak-anak dan masa dewasa. Sehingga mereka masih memerlukan penyesuaian diri untuk dapat diterima semua pihak.
1. Kenakalan Remaja
Arus kemorosotan akhlak yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita, yang lebih terkenal dengan sebutan kenakalan remaja. Dalam surat-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan dikalangan remaja putri dan lain sebagainya.
2. Faktor-faktor terjadinya kenakalan remaja
Ada bebrapa faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja adalah sebagai berikut bagai berikut :
a. Kurangnya perhatian dari orang tua serta kurangnya kasih sayang
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.
b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan
Di dalam kehidupan berkeluarga kurangnya pembinaan agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.
c. Pengaruh dari pada lingkungan sekitar, pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat karena terpengaruh dengan budaya barat, pergaulan dengan teman sebayanya yang mana sering mempengaruhi untuk mencoba. Sebagai mana kita ketahui bahwa para remaja sangat senag dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya. Karena dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya.
3. Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja
Adapun akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja ada 3 antara lain :
a. Bagi diri remaja itu sendiri
Akibat dari kenakalan yang dia lakukan akan berdampak bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental, walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Kenakalan yang dilakukan yang dampaknya bagi fisik yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena karena gaya hidup yang tidak teratur. Sedangkan dalam segi mental maka pelaku kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada mental-mental yang lembek, berfikirnya tidak stabil dan keperibadiannya akan terus menyimpang dari segi moral dan endingnya akan menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal itu kan terus berlangsung selama tidak ada yang mengarahkan.

b. Bagi keluarga
Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Dan oleh para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidakharmonisan didalam kekuarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan tentunya ini sangat tidak baik, Sehingga mengakibatkan anak remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba dan narkotika. Dan menyebabkan keluarga merasa malu serta kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Yang mana kesemuanya itu hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya saja terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya.
c. Bagi lingkungan masyarakat
Di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya remaja sering bertemu orang dewasa atau para orang tua, baik itu ditempat ibadah ataupun ditempat lainnya, yang mana nantinya apapun yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun orang tua itu akan menjadi panutan bagi kaum remaja. Dan apabila remaja sekali saja berbuat kesalahan dampaknya akan buruk bagi dirinya, dan keluarga. Sehingga masyarakat menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.
Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu sendiri. Tindakan penanggulangan masalah kebakalan dapat di bagi dalam:



4. Upaya memecahkan masalah kenakalan remaja
a. Tindakan preventif
1) Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum, antara lain :
a) Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
b) Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.
c) Usaha pembinaan remaja :
- Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya
- Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika.
- Menyediakan sarana-sarana dan meciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
- Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana terjadi banyak kenakalan remaja.
Dengan usaha pembinaan yang terarah para remaja akan mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimabangan diri akan dicapai dimana tercipta hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi. Pikiran yang sehat akan mengarahkan mereka ke perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan kesulitan atau persoalan masing-masing.
2) Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus:
Dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkahlaku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya.
Sarana pendidikan lainya mengambil peranan penting dalam pembentukan pribadi yang wajar dengan mental yang sehat dan kuat. Misalnya kepramukaan, dan yang lainnya.
Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkahlaku remaja di rumah dan di sekolah.
Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah pengertian remaja mengenai:
- Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
- Penyesuaiam diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
- Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan yag dilakukan dengan dua pendekatan:
- Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada si remaja itui sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan si remaja dan membantu mengatasinya.
- Pendekatan melalui kelompok di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut:
* Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.
* Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingklaku baik dan merangsang hubungan sosia; yang baik.
* Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.
* Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok dipupuk solidaritas dan persekutuan dengan pembimbing.
a Tindakan Represif
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran.
- Di rumah, remaja harus menaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.
- Di sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan team guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergabtung dari macam pelanggaran tata tertib sekolah yang digariskan.
- Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkahlaku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana sering ditanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.
Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.























BAB III
PENUTUP

Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa masa remaja adalah masa transisi/peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikologi.
Masa remaja awal (pueral/pra pubertas), umumnya individu telah memasuki pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan masa remaja tengah (pubertas), individu sudah duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian mereka yang tergolong remaja akhir (adolesen), umumnya sudah memasuki dunia Perguruan Tinggi atau lulus SMU dan mungkin sudah bekerja.
Adapun faktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja adalah Kurangnya perhatian dari orang tua serta kurangnya kasih sayang, Minimnya pemahaman tentang keagamaan, Pengaruh dari pada lingkungan sekitar, pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya.
Sedangkan upaya dalam memecahkan permasalahan kenakalan remaja adalah perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.











DAFTAR PUSTAKA


Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Remaja, (Ghalia Indonesia, Bogor: 2004

Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, Rineka Cipta, Jakarta: 2005

Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, Rineka Cipta, Jakarta :1996

Sumardi Suryobroto, Psikologi Perkembangan, edisi IV, Rake Sarasin, Yogyakarta :1993

Dalam http://disiniakuada.multiplay.com : Menanggulangi masalah kenakalan remaja 2009 pada 8 januari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar